Menu

Selasa, 19 November 2013

AKU HANYALAH SEORANG HAMBA



Pada masa Rasulullah memimpin masyarakat Madinah, selaku orang besar ia justru paling melarat, walaupun warga Madinah hidup berkecukupan.
Kalau ada pakaian yang robek, Rasulullah menambalnya sendiri tanpa perlu menyuruh isterinya. Beliau juga memeras susu kambing untuk keperluan keluarga maupun untuk dijual.
Setiap kali pulang ke rumah, bila dilihat tiada makanan yang sudah siap di masak untuk dimakan, sambil tersenyum baginda menyinsing lengan bajunya untuk membantu isterinya di dapur.

       Sayidatina 'Aisyah menceritakan "Kalau Nabi berada di rumah, beliau selalu membantu urusan rumahtangga. Jika mendengar azan, beliau cepat-cepat berangkat ke masjid, dan cepat-cepat pula kembali sesudah selesai shalat."
Pernah baginda pulang pada waktu pagi. Tentulah baginda amat lapar waktu itu. Tetapi dilihatnya tiada apa pun yang ada untuk sarapan. Yang mentah pun tidak ada karena Sayidatina 'Aisyah belum ke pasar.
       Maka Nabi bertanya, "Belum ada sarapan ya Khumaira?" (Khumaira adalah panggilan mesra untuk Sayidatina 'Aisyah yang berarti 'Wahai yang kemerah-merahan')
'Aisyah menjawab dengan agak serba salah, "Belum ada apa-apa wahai Rasulullah."
Rasulullah lantas berkata, "Jika begitu aku puasa saja hari ini." Tanpa sedikit tergambar rasa kesal diwajahnya.
Sebaliknya baginda sangat marah tatkala melihat seorang suami memukul isterinya. Rasulullah menegur, "Mengapa engkau memukul isterimu?" Lantas dijawab dengan agak gementar, "Isteriku sangat keras kepala. Sudah diberi nasehat dia tetap bandel, jadi aku pukul dia."

       "Aku tidak bertanya alasanmu," sahut Nabi s.a.w. "Aku menanyakan mengapa engkau memukul teman tidurmu dan ibu bagi anak-anakmu ?"
Pernah baginda bersabda, "sebaik-baik lelaki adalah yang paling baik dan lemah lembut terhadap isterinya."
Prihatin, sabar dan tawadhuknya baginda dalam menjadi kepala keluarga tidak menampakkan kedudukannya sebagai pemimpin umat.

       Pada suatu hari, ketika Rasulullah mengimami Shalat Isya berjamaah, para sahabat yang jadi makmum dibuat cemas oleh keadaan nabi yang agaknya sedang sakit payah. Buktinya, setiap kali ia menggerakkan tubuh untuk rukuk, sujud dan sebagainya, selalu terdengar suara keletak-keletik, seakan-akan tulang-tulang Nabi longgar semuanya.
Maka, sesudah salam, Umar bin Khatab bertanya,"Ya, Rasullullah, apakah engkau sakit?".
"Tidak, Umar, aku sehat," jawab Nabi.
"Tapi mengapa tiap kali engkau menggerakkan badan dalam shalat, kami mendengar bunti tulang-tulangmu yang berkeretakan?".
Mula-mula, Nabi tidak ingin membongkar rahasian. Namun, karena para sahabat tampaknya sangat was-was memperhatikan keadaannya, Nabi terpaksa membuka pakaiannya.
Tampak oleh para sahabat, Nabi mengikat perutnya yang kempis dengan selembar kain yang didalamnya diiisi batu-batu kerikil untuk mengganjal perut untuk menahan rasa lapar. Batu-batu kerikil itulah yang berbunyi keletak-keletik sepanjang Nabi memimpin shalat berjamaah.
Serta merta Umar pun memekik pedih, "Ya, Rasulullah, apakah sudah sehina itu anggapanmu kepada kami? Apakah engkau mengira seandainya engkau mengatakan lapar, kami tidak bersedia memberimu makan yang paling lezat ?
Bukankah kami semuanya hidup dalam kemakmuran ?".

       Nabi tersenyum ramah seraya menyahut, "Tidak, Umar tidak. Aku tahu, kalian, para sahabatku, adalah orang-orang yang setia kepadaku. Apalagi sekedar makanan, harta ataupun nyawa akan kalian serahkan untukku sebagai rasa cintamu terhadapku, tetapi dimana akan kuletakkan mukaku dihadapan pengadilan Allah kelak di Hari Pembalasan, apabila aku selaku pemimpin justru membikin berat dan menjadi beban orang-orang yang aku pimpin?".
       Para sahabat pun sadar akan peringatan yang terkandung dalam ucapan Nabi tersebut, sesuai dengan tindakannya yang senantiasa lebih mementingkan kesejahteraan umat daripada dirinya sendiri.

       Baginda pernah tanpa rasa canggung sedikitpun makan di sebelah seorang tua yang penuh kudis, miskin dan kotor.
Baginda hanya diam dan bersabar ketika kain rida'nya ditarik dengan kasar oleh seorang Arab Baduwi hingga berbekas merah di lehernya.
Dan dengan penuh rasa kehambaan baginda membasuh tempat yang dikencing si Baduwi di dalam masjid sebelum menegur dengan lembut perbuatan itu.
Mengenang pribadi yang amat halus ini, timbul persoalan dalam diri kita... adakah lagi bayangan pribadi baginda Rasulullah s.a.w. hari ini?

       Apakah rahasia yang menjadikan jiwa dan akhlak baginda begitu indah? Apakah yang menjadi rahasia kehalusan akhlaknya hingga sangat memikat dan menjadikan mereka begitu tinggi kecintaan padanya.
Apakah kunci kehebatan peribadi baginda yang bukan saja sangat bahagia kehidupannya walaupun di dalam kesusahan dan penderitaan, bahkan mampu pula membahagiakan orang lain tatkala di dalam derita.
Kecintaannya yang tinggi terhadap ALLAH S.W.T dan rasa kehambaan yang sudah menyatu dalam diri Rasulullah saw menolak sama sekali rasa ketuanan.
Seolah-olah anugerah kemuliaan dari ALLAH tidak dijadikan sebab untuk merasa lebih dari yang lain, ketika di depan umum maupun dalam kesendirian.

       Seorang tabib yang dikirim oleh penguasa Mesir, Muqauqis, sebagai tanda persahabatan, selama dua tahun di Madinah sama sekali menganggur.
Menandakan betapa kesehatan penduduk Madinah betul-betul berada pada tingkatan yang tinggi. Sampai tabib itu bosan dan bertanya kepada Nabi, "Apakah masyarakat Madinah takut kepada tabib?"

       Nabi menjawab, "Tidak. Terhadap musuh saja tidak takut, apalagi kepada tabib".
"Tapi mengapa selama dua tahun tinggal di Madinah, tidak ada seorang pun yang pernah berobat kepada saya?"
"Karena penduduk Madinah tidak ada yang sakit," jawab Nabi.

       Tabib itu kurang percaya, "Masak tidak ada seorang pun yang mengidap penyakit?".
"Silakan periksa ke segenap penjuru Madinah untuk membuktikan ucapanku,"ujar Nabi.
Maka tabib Mesir itu pun melakukan perjalanan kelililng Madinah guna mencari tahu apakah benar ucapan Nabi tersebut. Ternyata memang di seluruh Madinah ia tidak menjumpai orang yang sakit-sakitan. Akhirnya, ia berubah menjadi kagum dan bertanya kepada Nabi, "Bagaimana resepnya sampai orang-orang Madinah sehat-sehat semuanya ?"
Rasulullah menjawab, "Kami adalah suatu kaum yang tidak akan makan kalau belum lapar. Jika kami makan, tidaklah sampai terlalu kenyang. Itulah resep untuk hidup sehat, yakni makan yang halal dan baik, dan makanlah untuk takwa, tidak sekedar memuaskan hawa nafsu".

       Ketika pintu Syurga telah terbuka seluas-luasnya untuk baginda, baginda masih lagi berdiri di waktu-waktu sepi malam hari, terus-menerus beribadah hingga pernah baginda terjatuh lantaran kakinya sudah bengkak-bengkak. Fisiklnya sudah tidak mampu menanggung kemauan jiwanya yang tinggi. ketika ditanya oleh Sayidatina 'Aisyah, "Ya Rasulullah, bukankah engkau telah dijamin masuk Syurga? Mengapa engkau masih bersusah payah begini ?"
Jawab baginda dengan lunak, "Ya 'Aisyah, bukankah aku ini hanyalah seorang hamba? Sesungguhnya aku ingin menjadi hamba-Nya yang bersyukur."

1000 TAHUN LAGI



     Awan sedikit mendung,
     ketika kaki kaki kecil Yani berlari lari gembira
     di atas jalanan menyebrangi kawasan lampu merah karet.
     baju merahnya yang kebesaran melambai lambai di tiup angin,
     tangan kanannya memegang es krim
     sambil sesekali mengangkatnya ke mulutnya untuk di cicipi,
     sementara tangan kirinya mencengkram ikatan sabuk celana 
     ayahnya.
    
     Yani dan ayahnya memasuki wilayah pemakaman umum karet,
     berputar sejenak ke kanan dan kemudian duduk di atas seonggok
     nisan
     "Hj Rajawali binti Muhammad"
     "19-10-1905 : 20-01-1965"
    
     "Nak, ini kubur nenekmu 
     mari kita berdo'a untuk nenekmu"
    
     Yani melihat wajah ayahnya,
     lalu menirukan tangan ayahnya yang mengangkat ke atas
     dan ikut memejamkan mata seperti ayahnya
     dan ia mendengarkan ayahnya berdo'a untuk neneknya ..
    
     "Ayah, nenek waktu meninggal umur 50 tahun ya yah"
     Ayahnya mengangguk sembari tersenyum sembari memandang pusara
     Ibu-nya
     "hmm, berarti nenek sudah meninggal 36 tahun ya yah..." kata
     Yani berlagak sambil matanya menerawang dan jarinya
     berhitung.
    
     iya, nenekmu sudah di dalam kubur 36 tahun ...
     Yani memutar kepalanya, memandang sekeliling,
     banyak kuburan di sana, di samping kuburan neneknya
     ada kuburan tua berlumut "Muhammad Zaini : 19-02-1882 : 30-
     01-1910"
    
     "hmm.. kalau yang itu sudah meninggal 91 tahun yang lalu ya
     yah"
     jarinya menunjuk nisan disamping kubur neneknya
     sekali lagi ayahnya mengangguk ..
     tangannya terangkat mengelus kepala anak satu satunya
    
     "memangnya kenapa ndhuk ?" kata sang ayah menatap teduh mata
     anaknya
     "hmmm, ayah khan semalam bilang, bahwa kalau kita mati, lalu
     di kubur
     dan kita banyak dosanya, kita akan disiksa dineraka " kata
     yani sambil meminta persetujuan ayahnya .. iya kan yah ?
    
     ayahnya tersenyum, "lalu ?"
    
     "iya .. kalau nenek banyak dosanya, berarti nenek sudah
     disiksa 36 tahun dong yah di kubur ?
     kalau nenek banyak pahalanya, berarti sudah 36 tahun nenek
     senang dikubur .. ya nggak yah ? " mata yani berbinar karna
     bisa menjelaskan kepada ayahnya pendapatnya.
    
     Ayahnya tersenyum, namun sekilas tampak keningnya berkerut,
     tampaknya cemas .. "Iya nak, kamu pintar"
    
     Pulang dari Pemakaman, ayah Yani tampak gelisah di atas
     sejadahnya, memikirkan apa yang dikatakan anaknya ..
    
     36 tahun ... hingga sekarang ...
     kalau kiamat datang 100 tahun lagi ,,,,
     136 tahun disiksa .. atau bahagia di kubur ...
    
     lalu ia menunduk ..
     meneteskan air mata ..
     kalau ia meninggal ..
     lalu banyak dosanya ...
     lalu kiamat masih 1000 tahun lagi ...
     berarti ia akan disiksa 1000 tahun ?
     innalillaahi wa inna ilaihi rooji'un ...
    
     air matanya semakin banyak menetes ..
     sanggupkah ia selama itu disiksa ?
     iya kalau kiamat 1000 tahun ke depan ..
     kalau 2000 tahun lagi ?
     kalau 3000 tahun lagi ?
     selama itu ia akan disiksa di kubur ..
     lalu setelah dikubur ?
     bukankah akan lebih parah lagi ?
    
     tahankah ia ?
     padahal melihat adegan preman dipukuli massa
     di televisi kemarin ia sudah tak tahan ?
    
     Ya Allah ...
     ia semakin menunduk ..
     tangannya terangkat keatas ..
     bahunya naik turun tak teratur ...
     air matanya semakin membanjiri jenggotnya ...
    
     Allahumma as aluka khusnul khootimah
     berulang kali di bacanya doa itu hingga suaranya serak ...
     dan ia berhenti sejenak ketika terdengar batuk Yani 
    
     dihampirinya Yani yang tertidur di atas dipan bambu...
     dibetulkannya selimutnya, dan "plak" ..
     seekor nyamuk berada di dahi yani .. 
    
     Yani terus tertidur ...
     tanpa tahu, betapa sang bapak sangat berterima kasih padanya
     karena telah menyadarkannya ..
     arti sebuah kehidupan ...
     dan apa yang akan datang di depannya
    
    
    

Senin, 18 November 2013

7 Kebiasaan yang Memperkaya Hidup

1. Kebiasaan mengucap syukur.
Ini adalah kebiasaan istimewa yang bisa mengubah hidup selalu menjadi lebih baik. Bahkan agama mendorong kita bersyukur tidak hanya untuk hal-hal yang baik , tetapi juga dalam kesusahan dan hari-hari yang buruk.. Ada rahasia besar dibalik ucapan syukur yang sudah terbukti sepanjang sejarah. Hellen Keller yang buta dan tuli sejak usia dua tahun , telah menjadi orang yang terkenal dan dikagumi diseluruh dunia. Salah satu ucapannya yang banyak memotivasi orang adalah “Aku bersyukur atas cacat-cacat ini aku menemukan diriku, pekerjaanku dan Tuhanku”. Memang sulit untuk bersyukur, namun kita bisa belajar secara bertahap. Mulailah mensyukuri kehidupan, mensyukuri berkat , kesehatan, keluarga, sahabat dsb. Lama kelamaan anda bahkan bisa bersyukur atas kesusahan dan situasi yang buruk.


2. Kebiasaan berpikir positif.
Hidup kita dibentuk oleh apa yang paling sering kita pikirkan. Kalau selalu berpikiran positif, kita cenderung menjadi pribadi yang yang positif. Ciri-ciri dari pikiran yang positif selalu mengarah kepada kebenaran, kebaikan, kasih sayang, harapan dan suka cita. Sering-seringlah memantau apa yang sedang anda pikirkan. Kalau anda terbenam dalam pikiran negatif, kendalikanlah segera kearah yang positif. Jadikanlah berpikir positif sebagai kebiasaan, dan lihatlah betapa banyak hal-hal positif sebagai kebiasaan yang akan Anda alami.


3. Kebiasaan berempati.
Kemampuan berhubungan dengan orang lain merupakan kelebihan yang dimiliki oleh banyak orang sukses. Dan salah satu unsur penting dalam berhubungan dengan orang lain adalah empati, kemampuan atau kepekaan untuk memandang dari sudut pandang orang lain. Orang yang empati bahkan bisa merasakan perasaan orang lain, mengerti keinginannya dan menangkap motif dibalik sikap orang lain. Ini berlawanan sekali dengan sikap egois , yang justru menuntut diperhatikan dan dimengerti orang lain. Meskipun tidak semua orang mudah berempati , namun kita bisa belajar dengan membiasakan diri melakukan tindakan-tindakan yang empatik. Misalnya, jadilah pendengar yang baik, belajarlah menempatkan diri pada posisi orang lain, belajarlah melakukan apa yang Anda ingin orang lain lakukan kepada Anda, dsb.


4. Kebiasaan mendahulukan yang penting .
Pikirkanlah apa saja yang paling penting, dan dahulukanlah!. Jangan biarkan hidup Anda terjebak dalam hal-hal yang tidak penting sementara hal-hal yang penting terabaikan. Mulailah memilah-milah mana yang penting dan mana yg tidak, kebiasaan mendahulukan yang penting akan membuat hidup Anda efektif, produktif dan meningkatkan citra diri Anda secara signifikan.


5. Kebiasaan bertindak.
Bila Anda sudah mempunyai pengetahuan, sudah mempunyai tujuan yang hendak dicapai dan sudah mempunyai kesadaran mengenai apa yang harus dilakukan, maka langkah selanjutnya adalah bertindak. Biasakan untuk mengahargai waktu, lawanlah rasa malas dengan bersikap aktif. Banyak orang yang gagal dalam hidup karena hanya mempunyai impian dan hanya mempunyai tujuan tapi tak mau melangkah.


6. Kebiasaan menabur benih.
Prinsip tabur benih ini berlaku dalam kehidupan. Pada waktunya Anda akan menuai yang Anda tabur. Bayangkanlah, betapa kayanya hidup Anda bila Anda selalu menebar benih ‘kebaikan’. Tapi sebaliknya, betapa miskinnya Anda bila rajin menabur keburukan.


7. Kebiasaan hidup jujur.
Tanpa kejujuran, kita tidak bisa menjadi pribadiyang utuh, bahkan bisa merusak harga diri dan masa depan Anda sendiri. Mulailah membiasakan diri bersikap jujur, tidak saja kepada diri sendiri tapi juga terhadap orang lain. Mulailah mengatakan kebenaran, meskipun mengandung resiko. Bila Anda berbohong, kendalikanlah kebohongan Anda sedikit demi sedikit

ARTI HIDUP YANG PERLU KITA KETAHUI

HIDUP KITA CUMA DALAM 3 HARI :
1. Semalam - Sudah menjadi sejarah
2. Hari Ini - Apa yang sedang kita lakukan
3. Esok - Hari yang belum pasti

Hisablah hari pertama semoga hari yang kedua kita lebih baik dari hari
yang pertama. Jangan mengharap hari yang ketiga karena mungkin ajal
kita pada hari yang kedua.

HIDUP KITA CUMA DALAM 2 NAFAS :
1. Nafas Naik
2. Nafas Turun

Hargailah Nafas yang naik kerana udara yang disedut adalah pemberian
Allah swt secara percuma dan carilah keridhaanNya dalam menggunakannya.

Bertaubatlah dalam Nafas yang kedua kerana mungkin itu nafas yang
terakhir keluar dari tubuh bersama Nyawa dan Roh untuk meninggalkan
dunia yang fana ini.

HIDUP KITA CUMA ADA 2 PILIHAN :
1. Hidup dalam keridhoan Allah
2. Hidup dalam kemurkaan Allah

HIDUP KITA YANG ABADI CUMA ADA 2 TEMPAT :
1. Kekal didalam neraka
2. Kekal didalam surga

Ingatlah kecelakaan neraka itu amat mengerikan.

Kelezatan dan kesejahteraan surga itu maha HEBAT. Tidak terduga oleh
fikiran kita

Amat sukar untuk dipercayai bagi yang ingin ke SURGA tetapi tidak
beribadah, umpama seorang yang mau menaiki kapal terbang tetapi tidak
mempunyai BOARDING PASS.

Dan mereka yang sengaja melalaikan Ibadah, Umpama mengirimkan sepucuk
surat tanpa melekatkan perangko apabila ditanya bagaimana surat itu akan
sampai pada penerimanya... lalu dia pun berkata perangkonya akan dihantar
kemudian.

Ada 2 penyelesaian dalam hal ini :-
1. Dia mungkin didenda
2. Segala suratnya masuk tong sampah.

Oleh itu, tidakkah kita semestinya bersyukur atas segala nikmat yang
Allah karuniakan kepada kita....Sekurang-kurangnya Allah telah memberi
udara secara percuma untuk kita berdo'a  dan mengingat Allah setiap detik,
 hinggalah kita kembali kepada Allah dalam keadaan jiwa
yang tenang...lalu masuk kedalam surga dalam keadaan ridho dan Allah
meridhoi.

“ Hai Jiwa yang tenang , kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang Puas lagi diridhai-Nya , maka masuklah kedalam jamaah hamba-hamba-Ku  dan masuklah kedalam surga-Ku