Menu

Jumat, 08 Mei 2015

Pilpres Abal-Abal Republik Amburadul

Bernegara itu seharusnya bermartabat. Berpolitik itu semestinya beretika. Dan amanah sudah seharusnya ditunaikan dengan jujur dan adil. Sudah sepatutnya kita belajar dari kesalahan dan pengalaman yang membelit-belit bangsa ini. Dengan begitu, generasi penerus akan siap menjadi pemimpin bangsa yang amanah, beretika, dan bermartabat. Itulah sebagian pesan yang disampaikan melalui suara anak bangsa, sebagaimana tersurat dalam kutipan pernyataan tokoh-tokoh berikut ini.

Minggu, 03 Mei 2015

Nostalgia Mainan Anak Kampung

Mengingat masa kecil yang penuh warna, penuh makna dan penuh dengan canda tawa. Masa kecil saya habiskan dikampung, di Kabupaten Kerinci, Jambi. bagi anda yang tau kabupaten ini anda termasuk orang yang berpengetahuan luas. hehe. kehidupan masa kecil saya tak lepas dari permainan dan mainan, kenapa?
 ya namanya juga anak kecil ya wajar dong doyannya main terus hehe. nah saya akan bagikan beberapa permainan yang sering saya lakukan bersama teman-teman saya. mari kita bernostalgia dengan indahnya masa lalu melalui sajian permainan dan mainan masa lalu ini. jika anda tak tahu permainan ini, anda termasuk orang yang kurang beruntung hehe.

1. Ban
Dulu permainan ini sangat menyenangkan, saya mencari ban bekas bersama teman-teman saya. permainan ini simple, kami tinggal menggelindingkan ban bekas tersebut dijalan sambil lari-larian. tak jarang kami jadikan ini ajang perlombaan layaknya lomba lari, hanya saja kita berlari sambil menggelindingkan ban. seperti gambar dibawah ini.

Sedikit Ulasan Dari Buku Jiwa-Jiwa Pemberontak (Kahlil Gibran)

Ku selesaikan membaca buku karya Kahlil Gibran yang berjudul Jiwa-Jiwa Pemberontak. Ketika pertama kali melihat buku ini, aku mengira adalah buku perang, ataupun buku yang hanya mengajarkan kita tentang arti perjuangan dari sifat tertidas. Apalagi di cover halama depan, terdapat kutipan kata dari sang penulis "Seseorang bisa bebas tanpa kebesaran, tapi tidak seorangpun dapat besar tanpa kebebasan" (Kahlil Gibran).

Terbayang Masa Kecil 1

Mengejar mimpi kenegeri seberang tak semudah yang dibayangkan dan tak sesusah jika dijalani dengan tenang. aku berasal dari kampung, kampung yang sangat terpelosok dan jauh dari hiruk pikuk keramaian. sawah, ladang dan sungai itu lah tempat bermainku. setiap hari ku datangi sawah bukan untuk panen padi, tetapi hanya untuk bermain bersama teman-temanku. sawah menjadi tempat yang begitu menyenangkan, berlari-lari dipingkir pematang sambil melempar segenggam tanah liat, iya kami bermain perang-perangan dengan lemparan tanah. Senyum dan keceriaan menghiasi wajah kami, walaupun badan penuh dengan lumuran tanah liat bercampur lumpur, namun tawa kami tak pernah luntur, kebahagian dan kecerian selalu ada.