Ku selesaikan membaca buku karya Kahlil Gibran yang berjudul Jiwa-Jiwa Pemberontak. Ketika pertama kali melihat buku ini, aku mengira adalah buku perang, ataupun buku yang hanya mengajarkan kita tentang arti perjuangan dari sifat tertidas. Apalagi di cover halama depan, terdapat kutipan kata dari sang penulis "Seseorang bisa bebas tanpa kebesaran, tapi tidak seorangpun dapat besar tanpa kebebasan" (Kahlil Gibran).
Kalimat itulah yang membuat ku tertarik untuk membeli buku ini. Ini bukanlah buku motivasi ataupun buku sejarah, ini hanyalah novel yang mengajarkan kita tentang banyak makna. baik itu cinta, tradisi ataupun kehidupan. Novel ini berisi beberapa cerita yang cukup menggugah jiwa. seakan-akan apapun yang diceritakan dalam novel ini menggambarkan suatu kehidupan yang benar-benar nyata.
Cerita pertama mengajarkan tentang harta tak akan mampu menggantikan kedudukan cinta seseorang, mengisahkan cinta seorang wanita yang dimuliakan dengan harta oleh suaminya. Namun bukannya bahagia tapi sang wanita merasa hampa, karena dia sadar cinta sejati bukan dari harta tapi dari hati. Hingga akhirnya sang wanita lebih memilih hidup bersahaja bersama pria biasa, pria yang mampu mengisi kekosongan hatinya dengan cinta.
Cerita kedua, tak jauh berbeda dengan cerita pertama, masih mengisahkan tentang cinta antar sepasang anak manusia. Mereka di pisahkan karena fitnah dan tipu daya. Hingga akhirnya sang wanita menikah dengan pria lain, dihari pernikahannya dia melihat kekasihnya duduk sendiri dan tak banyak bicara, hanya roman kesedihan yang terpancar diwajahnya. sang wanita akhirnya meminta temannya untuk menunggunya di kebun rumah, sang wanita membujuk kekasihnya untuk membawanya pergi, karena dua sadar dia telah ditipu dan tak sanggpu hidup dengan orang yang tak disayanginya. sang pria menolak, dan mengatakan sudah terlambat, dan mengatakan dia sudah tak mencintai sang wanita. dengan menangis sang wanita menikam dada pria yang dia sayangi itu hingg mati, ditengah ajal sang pria berbisik bahwa dia sangat mencintai sang wanita, hanya saja dia tak mampu berbuat apa-apa. tangisan sang wanita begitu membahana, kemudian dia kumpulkan orang-orang, dan selanjutnya menikam dadanya sendiri dengan pisau tadi, hingga akhirnya dia mati bersama orang yang dia sayangi.
Cerita ketiga, lebih menggambarkan kehidupan yang tidak adil. Dimana terdapat beberapa orang yang diadili tanpa keadilan yang nyata. beberapa orang itu adalah orang tua yang digantung karena mengambil sedikit hasil kebun, padahal hasil kebun itu merupakan buah kerja kerasnya. perempuan yang mati dilempari batu, karena dianggap zina dengan pria, padahal dia hanya bertemu dengan kekasih lamanya. dipenggalnya seorang pria, padahal dia hanya ingin menyelamatkan tunangannya dari nafsu birahi sang penguasa. mereka semua mati tanpa keadalian yang jelas, menggambarkan sedikit realitas yang ada.
Cerita terakhir, mengisahkan seorang pemuda yang mampu keluar dari tempat yang penuh dengan kenikmatan karena hati nurani dalam jiwanya tak bisa menerima hidup bahagia diatas derita orang lain. hingga akhirnya dia keluar dari tempat tersebut dan memilih hidup melarat, hanya saja berkat ketulusan dan keyakinan yang dimilikinya dia mampu menumbangkan kesombongan dan kesewenangan sang tuan tanah yang berkuasa. hingga akhrinya tak hanya dia yang bebas, namun semua orang yang hidup tertindas mampu dibebaskan dari belenggu kesewenangan.
banyak makna yang bisa diambil dari buku ini, sesuai judulnya yaitu jiwa-jiwa pemberontak, dimana jiwa yang tak mau tunduk dengan kehinaan, jiwa yang tak mau patuh dengan kedzaliman, jiwa yang tak mau diperintah oleh kemunafikan dan jiwa-jiwa yang ingin bebas menikmati kehidupan dengan jujur dan sesuai kata hati
.
"seseorang bisa bebas tanpa kebesaran, tapi tak seorangpun dapat besar tanpa kebebasan". (Kahlil Gibran).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar