Menu

Sabtu, 14 November 2015

Kenapa Saya Harus Menulis ?

Sebenarnya keinginan saya untuk menjadi penulis baru-baru ini, ketika saya mulai frustasi dengan tugas kuliah yang menumpuk, dan melihat teman-teman sekeliling sudah bergelimang prestasi, sedangkan saya belum menjadi apa-apa, masih sebagai mahasiswa yang antah berantah gak jelas, yang hanya kuliah pulang kuliah pulang, atau bahasa gaulnya kupu-kupu.

Berkat menjadi kupu-kupu (kuliah pulang kuliah pulang), saya keseringan punya waktu luang yang terlampau banyak, akhirnya isenglah saya ke perpustakaan kampus, disana saya mulai membaca buku, mulai dari yang ringan sampai yang berbobot, bahkan saking berbobotnya mata saya harus melotot untuk membacanya, otak saya harus bekerja ekstra untuk mencernanya.

Dari aktivitas baca buku inilah muncul keinginan untuk jualan buku, eh kok jualan buku bukan nulis buku? Iya, soalnya setelah senang membaca, saya langsung menyambangi abang-abang yang jualan buku dan beli beberapa buku, setiap minggu pasti beli buku, nah karena punya banyak stok buku yang sudah dibaca, akhirnya saya coba jual-jualin tuh buku, beruntungnya sebagian buku tersebut laku dibeli orang, bahkan harganya jauh lebih mahal dari harga beli, saya untung besar, akhirnya dimulai lah era saya jualan buku.

Setelah mulai jualan buku, saya mulai sering searching-searching buku, utamanya sih nyari harga buku, buat sebagai pembanding harga jual, atau gak copy paste deskripsi buku dari web orang. Karena keseringan ngelihat harga buku, saya mulai menghitung sendiri dalam otak, andai saya punya 10.000 buku yang terjual, kemudian dapat komisi Rp. 5.000 perbuku, otomatis saya dapat Rp. 50.000.000, wah lumayan juga. Nah dari hitung-hitungan keuntungan inilah, keinginan untuk nulis buku mulai bersemi. 

Berselang beberapa hari, laptop kesayangan saya rusak, padahal laptop ini sangat saya andalkan untuk menemani saya jadi bakal calon penulis, iya baru bakal calon, karena saya masih belum yakin mampu jadi penulis. Akhirnya saya lapor atasan (orang tua), kalo laptop saya habis kena rudal tentara asing, jadinya harus di rekonstruksi segera, atau tidak kirimkan uang untuk membeli yang baru. 

Dengan sabar, atasan (orang tua) saya mengirimkan uang untuk membeli laptop yang baru, berhubung uang nya terbatas saya jadikan untuk membeli netbook agar gampang dibawa, setelah selang beberapa hari, akhrinya saya tau bahwa orang tua saya harus meminjam uang untuk membelikan netbook. saya merasa sedih dan malu kepada diri sendiri, orang tua saya berjuang begitu hebat, sedangkan saya belum memberikan prestasi apa-apa.

Berkat dari situ, saya mulai berfikir dan menyendiri untuk menemukan kelebihan yang bisa diolah menjadi prestasi. Setelah sekian lama belum ada ide yang muncul, akhirnya saya iseng buka rapor sekolah dari SD sampai kuliah, ternyata ada satu pelajaran yang membuat saya tersenyum, yaitu bahasa indonesia, ternyata dari kecil nilai bahasa indonesia saya selalu mengagumkan.

Bermodalkan nilai bahasa indonesia inilah, saya mulai tau apa yang saya sukai dari dulu, yaitu mengarang, bercerita dan menulis. Saya mulai berfikir, bukankah menulis itu menyenangkan, apalagi saya belajar menulis sejak kecil, bahkan waktu TK pun sudah diajarkan menulis. ya walaupun waktu kecil hanya menulis “ Ini budi, Ini bapak Budi” tetapi saya yakin saya telah menjadi penulis sejak kecil.

Teringat salah satu prestasi saya waktu kecil, yaitu berhasil membuat sebuah surat cinta, ketimbang mengungkapkan cinta secara langsung, saya lebih memilih menuangkan perasaan saya dalam bentuk tulisan, dan hasilnya sukses besar, saya diterima. Padahal waktu itu saya masih sekolah dasar, tetapi sudah bisa merangkai kata-kata indah yang membuat wanita tercantik di sekolah terpesona hehe.

Akhirnya, saya bertekad dengan mantap untuk menjadi penulis, saya mulai membaca buku tentang menulis, bergabung dengan komunitas menulis, dan hadir di seminar-seminar kepenulisan. Berkat mengikuti kegiatan tersebut saya mendapatkan banyak pencerahan, bahwa menulis itu bukan hanya soal prestasi ataupun profit, tetapi lebih jauh dari itu, yaitu sebagai ladang amal ibadah.

Apalagi ada amalan yang pahalanya tak putus-putus yaitu ilmu yang bermanfaat, bayangkan jika saya bisa membuat buku yang bermanfaat untuk semua orang, otomatis saya telah beribadah dijalan Allah, dan mendapatkan barokah pahala yang tak putus-putus. Dengan demikian, saya jadikan beribadah kepada Allah sebagai landasan atau niat awal saya untuk menjadi penulis, yang lainnya hanya nilai tambah saja. 

Saya teringat salah satau hadist yang berbunyi “Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk orang lain”. Oleh karena itu, saya wakaf kan diri saya untuk menjadi penulis yang bermanfaat. Dengan sukarela dan penuh keikhlasana saya akan menjadi penulis yang hebat dan bermanfaat, itu janji saya kepada diri sendiri.

Dalam kehidupan sehari-hari, saya sering membaca buku yang sangat bagus, tak jarang buku tersebut memberikan spirit dan semangat pada diri saya, sehingga saya yakin orang yang menulis buku itu adalah orang hebat dan sukses. sehingga saya berkeyakinan, aktivitas menulis akan menginspirasi saya untuk cepat sukses.

Selain untuk memotivasi untuk sukses, ternyata aktivitas menulis sama juga dengan belajar, bahkan ilmu yang ditulis biasanya lebih melekat di otak, karena ilmu tersebut diasah terus menerus lewat penulisan. semakin sering seseorang  menulis, maka ia akan semakin pintar.

Bahkan aktivitas menulis pernah saya jadikan metode untuk menghapal ketika saya mengalami kesulitan dalam hapalan, caranya sederhana saya hanya menulis bahan hapalan terlebih dahulu, bahkan bahan tersebut harus ditulis berkali-kali, dengan metode itulah saya menghapal, dan hasilnya sangat efektif dan memuaskan. Jadi untuk itulah saya berniat menulis, selain bisa berbagi tetapi juga mengasah ilmu yang dimiliki.

Dan yang paling penting, kenapa harus menulis adalah agar bisa abadi, karena hanya tulisan lah yang membuat seseorang abadi. Kita tahu sejarah-sejarah masa lalu karena adanya tulisan di prasasti-prasasti, ataupun goresan yang dibuat di dinding goa atau tempat lainnya. Itu semua adalah tulisan yang selalu abadi.

Saya teringat salah satu kutipan dari Pramoedya Anantatoer “ Orang boleh pandai setinggi langit tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang didalam masyarakat dan dari sejarah, menulis adalah bekerja untuk keabadian”. Kata-kata inilah yang menggugah hati saya, sampai saya termenung beberapan lama dan semakin mantap untuk menulis. Dengan sepenuh hati, saya meyakini, bahwa menulis itu adalah seni, yaitu seni untuk keabadian yang menginspirasi. 

Saya simpulkan, kenapa saya harus menulis?
1.      Untuk beribadah kepada Allah
2.      Agar bermanfaat untuk orang lain
3.      Membuat bangga kedua orang tua
4.      Mendapatkan penghasilan
5.      Untuk menjadi orang hebat
6.      Untuk mengisahkan kisah-kisah yang menginspirasi.
7.       Dan terakhir, saya ingin abadi, dan  dikenang oleh semua orang.

Dari alasan-alasan inilah, niat saya benar-benar mantap dan serius ingin menjadi penulis yang hebat, walaupun kedepannya akan banyak rintangan ujian dan cobaan yang menghadang, tetapi InsyaAllah saya akan tetap istiqamah untuk menjadi penulis hebat. Aamiin.

Ciputat, 14 November 2015.

Penulis Hebat.
Angga Deva



Tidak ada komentar:

Posting Komentar