Berkat
menjadi kupu-kupu (kuliah pulang kuliah pulang), saya keseringan punya waktu
luang yang terlampau banyak, akhirnya isenglah saya ke perpustakaan kampus,
disana saya mulai membaca buku, mulai dari yang ringan sampai yang berbobot,
bahkan saking berbobotnya mata saya harus melotot untuk membacanya, otak saya
harus bekerja ekstra untuk mencernanya.
Dari
aktivitas baca buku inilah muncul keinginan untuk jualan buku, eh kok jualan
buku bukan nulis buku? Iya, soalnya setelah senang membaca, saya langsung
menyambangi abang-abang yang jualan buku dan beli beberapa buku, setiap minggu
pasti beli buku, nah karena punya banyak stok buku yang sudah dibaca, akhirnya
saya coba jual-jualin tuh buku, beruntungnya sebagian buku tersebut laku dibeli
orang, bahkan harganya jauh lebih mahal dari harga beli, saya untung besar,
akhirnya dimulai lah era saya jualan buku.
Setelah
mulai jualan buku, saya mulai sering searching-searching buku, utamanya sih
nyari harga buku, buat sebagai pembanding harga jual, atau gak copy paste
deskripsi buku dari web orang. Karena keseringan ngelihat harga buku, saya
mulai menghitung sendiri dalam otak, andai saya punya 10.000 buku yang terjual,
kemudian dapat komisi Rp. 5.000 perbuku, otomatis saya dapat Rp. 50.000.000,
wah lumayan juga. Nah dari hitung-hitungan keuntungan inilah, keinginan untuk nulis
buku mulai bersemi.
Berselang
beberapa hari, laptop kesayangan saya rusak, padahal laptop ini sangat saya
andalkan untuk menemani saya jadi bakal calon penulis, iya baru bakal calon,
karena saya masih belum yakin mampu jadi penulis. Akhirnya saya lapor atasan
(orang tua), kalo laptop saya habis kena rudal tentara asing, jadinya harus di
rekonstruksi segera, atau tidak kirimkan uang untuk membeli yang baru.
Dengan
sabar, atasan (orang tua) saya mengirimkan uang untuk membeli laptop yang baru,
berhubung uang nya terbatas saya jadikan untuk membeli netbook agar gampang
dibawa, setelah selang beberapa hari, akhrinya saya tau bahwa orang tua saya
harus meminjam uang untuk membelikan netbook. saya merasa sedih dan malu kepada
diri sendiri, orang tua saya berjuang begitu hebat, sedangkan saya belum
memberikan prestasi apa-apa.
Berkat
dari situ, saya mulai berfikir dan menyendiri untuk menemukan kelebihan yang
bisa diolah menjadi prestasi. Setelah sekian lama belum ada ide yang muncul,
akhirnya saya iseng buka rapor sekolah dari SD sampai kuliah, ternyata ada satu
pelajaran yang membuat saya tersenyum, yaitu bahasa indonesia, ternyata dari
kecil nilai bahasa indonesia saya selalu mengagumkan.
Bermodalkan
nilai bahasa indonesia inilah, saya mulai tau apa yang saya sukai dari dulu,
yaitu mengarang, bercerita dan menulis. Saya mulai berfikir, bukankah menulis
itu menyenangkan, apalagi saya belajar menulis sejak kecil, bahkan waktu TK pun
sudah diajarkan menulis. ya walaupun waktu kecil hanya menulis “ Ini budi, Ini
bapak Budi” tetapi saya yakin saya telah menjadi penulis sejak kecil.
Teringat
salah satu prestasi saya waktu kecil, yaitu berhasil membuat sebuah surat
cinta, ketimbang mengungkapkan cinta secara langsung, saya lebih memilih menuangkan
perasaan saya dalam bentuk tulisan, dan hasilnya sukses besar, saya diterima. Padahal
waktu itu saya masih sekolah dasar, tetapi sudah bisa merangkai kata-kata indah
yang membuat wanita tercantik di sekolah terpesona hehe.
Akhirnya,
saya bertekad dengan mantap untuk menjadi penulis, saya mulai membaca buku
tentang menulis, bergabung dengan komunitas menulis, dan hadir di
seminar-seminar kepenulisan. Berkat mengikuti kegiatan tersebut saya
mendapatkan banyak pencerahan, bahwa menulis itu bukan hanya soal prestasi
ataupun profit, tetapi lebih jauh dari itu, yaitu sebagai ladang amal ibadah.
Apalagi
ada amalan yang pahalanya tak putus-putus yaitu ilmu yang bermanfaat, bayangkan
jika saya bisa membuat buku yang bermanfaat untuk semua orang, otomatis saya
telah beribadah dijalan Allah, dan mendapatkan barokah pahala yang tak
putus-putus. Dengan demikian, saya jadikan beribadah kepada Allah sebagai
landasan atau niat awal saya untuk menjadi penulis, yang lainnya hanya nilai
tambah saja.
Saya
teringat salah satau hadist yang berbunyi “Sebaik-baik
manusia adalah yang bermanfaat untuk orang lain”. Oleh karena itu, saya
wakaf kan diri saya untuk menjadi penulis yang bermanfaat. Dengan sukarela dan
penuh keikhlasana saya akan menjadi penulis yang hebat dan bermanfaat, itu
janji saya kepada diri sendiri.
Dalam kehidupan sehari-hari, saya sering membaca buku yang sangat bagus, tak
jarang buku tersebut memberikan spirit dan semangat pada diri saya, sehingga
saya yakin orang yang menulis buku itu adalah orang hebat dan sukses. sehingga saya berkeyakinan, aktivitas menulis akan menginspirasi saya untuk cepat sukses.
Selain untuk memotivasi untuk sukses, ternyata aktivitas menulis sama juga
dengan belajar, bahkan ilmu yang ditulis biasanya lebih melekat di otak, karena
ilmu tersebut diasah terus menerus lewat penulisan. semakin sering seseorang
menulis, maka ia akan semakin pintar.
Bahkan aktivitas menulis pernah saya jadikan metode untuk menghapal, ketika saya mengalami kesulitan dalam hapalan, caranya sederhana saya hanya menulis bahan hapalan terlebih dahulu, bahkan bahan tersebut harus ditulis berkali-kali, dengan metode itulah saya menghapal, dan hasilnya sangat efektif dan memuaskan. Jadi untuk itulah saya berniat menulis, selain bisa berbagi tetapi juga mengasah ilmu yang dimiliki.
Bahkan aktivitas menulis pernah saya jadikan metode untuk menghapal, ketika saya mengalami kesulitan dalam hapalan, caranya sederhana saya hanya menulis bahan hapalan terlebih dahulu, bahkan bahan tersebut harus ditulis berkali-kali, dengan metode itulah saya menghapal, dan hasilnya sangat efektif dan memuaskan. Jadi untuk itulah saya berniat menulis, selain bisa berbagi tetapi juga mengasah ilmu yang dimiliki.
Dan
yang paling penting, kenapa harus menulis adalah agar bisa abadi, karena hanya
tulisan lah yang membuat seseorang abadi. Kita tahu sejarah-sejarah masa lalu
karena adanya tulisan di prasasti-prasasti, ataupun goresan yang dibuat di
dinding goa atau tempat lainnya. Itu semua adalah tulisan yang selalu abadi.
Saya
teringat salah satu kutipan dari Pramoedya Anantatoer “ Orang boleh pandai setinggi langit tapi selama ia tidak menulis, ia
akan hilang didalam masyarakat dan dari sejarah, menulis adalah bekerja untuk
keabadian”. Kata-kata inilah yang menggugah hati saya, sampai saya
termenung beberapan lama dan semakin mantap untuk menulis. Dengan sepenuh hati,
saya meyakini, bahwa menulis itu adalah seni, yaitu seni untuk keabadian yang
menginspirasi.
Saya
simpulkan, kenapa saya harus menulis?
1. Untuk
beribadah kepada Allah
2. Agar
bermanfaat untuk orang lain
3. Membuat
bangga kedua orang tua
4. Mendapatkan
penghasilan
5. Untuk
menjadi orang hebat
6. Untuk
mengisahkan kisah-kisah yang menginspirasi.
7. Dan terakhir, saya ingin abadi, dan dikenang oleh semua orang.
Dari
alasan-alasan inilah, niat saya benar-benar mantap dan serius ingin menjadi
penulis yang hebat, walaupun kedepannya akan banyak rintangan ujian dan cobaan
yang menghadang, tetapi InsyaAllah saya akan tetap istiqamah untuk menjadi
penulis hebat. Aamiin.
Ciputat,
14 November 2015.
Penulis
Hebat.
Angga
Deva
Tidak ada komentar:
Posting Komentar